Cintamukah itu yang berkata
Untukku habis sudah
Tiada sisa
Jadi lupakan saja
Bukan cinta
Untukmu tiada surut setetespun
Hanya saja kau tak perlu tau
Diam-diam pun masih kusimpan
Keping kenangan indah kita
Lalu kenapa lupakan saja
Menderai butiran airmata
Bukankah kita telah saling tau
Telah saling menerima
Lalu telah saling cinta
Lupakan saja lebih baik
Kau adalah ombak berkejaran
Jangan khianati laut yang setia
Demi memeluk pantai yang rindu
Pulanglah
Kutau kau telah lelah
*semoga ini posting terakhirku tentang 'dia'
18.2.09
17.2.09
Cinta (bukan) Melodrama
Saat seseorang memasuki kehidupanmu,
Tepatnya ke dalam ruang hatimu,
bagaimanapun orang lain memandangnya,
dia adalah segalanya bagimu.
Saat kau menatap matanya, masuk ke dalam jiwanya
dan kau mengatakan jutaan kata tanpa suara,
kau tahu bahwa hidupmu menghirup debaran jantungnya.
Kau mencintainya dengan sejuta alasan.
Dan ini semua tidak ada hubungannya dengan pikiran
Melainkan hanya dapat kau sentuh dengan perasaan…
Tepatnya ke dalam ruang hatimu,
bagaimanapun orang lain memandangnya,
dia adalah segalanya bagimu.
Saat kau menatap matanya, masuk ke dalam jiwanya
dan kau mengatakan jutaan kata tanpa suara,
kau tahu bahwa hidupmu menghirup debaran jantungnya.
Kau mencintainya dengan sejuta alasan.
Dan ini semua tidak ada hubungannya dengan pikiran
Melainkan hanya dapat kau sentuh dengan perasaan…
Label:
about love,
my dear B-),
poetry
2.2.09
akhir episode (di punggung itu)
kala ku bersandar lekat di punggung itu
samar terdengar mengalun
melodi indah tentang cinta
sungguh harmonisasi yang sempurna
antara gemuruh debar jantungku
dengan irama laju hembus nafasnya
ketika ku rasa hangat menjalari
sekujur tubuh rapuhku
jemari ini bergetar memeluknya
tiba-tiba sensasi yang begitu dalam,
membuncah dan mendesir hebat di dada
lalu perlahan tapi pasti
muncul perasaan yang tak dapat
kukalimatkan satu per satu
aku tersenyum di balik punggung itu
kurasa ia juga
sungguh semua terasa menakjubkan
indah tak terperi, tak berjeda
terlebih ketika empunya punggung itu
menangkupkan tangannya di atas
tanganku yang melingkar di perutnya
barangkali mengisyaratkan makna
'jangan berhenti mendekapku'
atau mungkin
'aku juga sayang padamu, andai kau tahu'
pikirku saat itu ku bermimpi
tapi tidak, aku sedang sadar
sesadar pelukanku yang makin
erat merangkul kekasih yang
bukan milikku itu
seolah tak rela ku lepas punggungnya,
punggung yang tak seharusnya
kupeluk dengan penuh kesadaran
punggung yang kini telah kukembalikan
pada yang lebih berhak memeluknya
well, akhirnya episode ini terpaksa
berakhir juga
sebab kudengar takdir berbisik harus demikian
meski saat semua terakhiri,
rasa ini sesungguhnya masih sebesar ketika
ku bersandar lekat di punggung itu
seandainya aku tahu
itulah saat terakhirku dengannya
pasti aku akan memeluknya lebih baik
lebih lama lagi
lebih menghayati
sehingga aku takkan merasa sekehilangan ini,
takkan serindu ini padanya
pada teduh tatapannya,
pada senyum dan tawanya,
pada merdu suaranya,
pada lembut belaian jemarinya,
pada aroma tubuhnya,
juga pada punggung itu
samar terdengar mengalun
melodi indah tentang cinta
sungguh harmonisasi yang sempurna
antara gemuruh debar jantungku
dengan irama laju hembus nafasnya
ketika ku rasa hangat menjalari
sekujur tubuh rapuhku
jemari ini bergetar memeluknya
tiba-tiba sensasi yang begitu dalam,
membuncah dan mendesir hebat di dada
lalu perlahan tapi pasti
muncul perasaan yang tak dapat
kukalimatkan satu per satu
aku tersenyum di balik punggung itu
kurasa ia juga
sungguh semua terasa menakjubkan
indah tak terperi, tak berjeda
terlebih ketika empunya punggung itu
menangkupkan tangannya di atas
tanganku yang melingkar di perutnya
barangkali mengisyaratkan makna
'jangan berhenti mendekapku'
atau mungkin
'aku juga sayang padamu, andai kau tahu'
pikirku saat itu ku bermimpi
tapi tidak, aku sedang sadar
sesadar pelukanku yang makin
erat merangkul kekasih yang
bukan milikku itu
seolah tak rela ku lepas punggungnya,
punggung yang tak seharusnya
kupeluk dengan penuh kesadaran
punggung yang kini telah kukembalikan
pada yang lebih berhak memeluknya
well, akhirnya episode ini terpaksa
berakhir juga
sebab kudengar takdir berbisik harus demikian
meski saat semua terakhiri,
rasa ini sesungguhnya masih sebesar ketika
ku bersandar lekat di punggung itu
seandainya aku tahu
itulah saat terakhirku dengannya
pasti aku akan memeluknya lebih baik
lebih lama lagi
lebih menghayati
sehingga aku takkan merasa sekehilangan ini,
takkan serindu ini padanya
pada teduh tatapannya,
pada senyum dan tawanya,
pada merdu suaranya,
pada lembut belaian jemarinya,
pada aroma tubuhnya,
juga pada punggung itu
Label:
about love,
moment,
my dear B-),
perfectness
23.1.09
Aku Jatuh
Kemarin aku jatuh. Jatuh dalam arti yang sebenarnya. Jatuh secara harfiah.
Aku jatuh di jalan yang penuh dengan orang-orang berlalu lalang.
Cukup untuk membuat mata orang-orang disekitar memandang.
Membuat benak mereka sibuk berbincang karena penasaran.
Dan cukup untuk membuat hati mereka sedikit tergerak membantuku berdiri atau sekedar menanyakan apakah aku tidak apa-apa.
Sakitnya tak seberapa, tapi menyadari aku bisa saja membahayakan jiwa orang lain sungguh menyakiti jiwaku. Tapi menyadari bahwa aku tak mampu mengendalikan keseimbangan tubuhku lagi rasanya lebih menyedihkan.
Malunya pun tak seberapa, karena aku yakin semua orang pernah terjatuh, maka kemungkinan mereka menertawai jatuhku rasanya nyaris tak terpikirkan.
Aku menangis, bukan karena sakit ragaku.
Melainkan sakit yang lain.
Aku menangis atas kelemahanku, atas kecerobohanku, atas ketidakberdayaanku mengubah keadaan.
Aku segera berdiri dan pergi, karena aku tidak suka orang melihatku menangis.
Aku masih menangis, ketika sejenak berharap waktu itu kamu yang menolongku sehingga bisa kubenamkan wajahku di pelukmu supaya aku merasa tenang.
Aku jatuh di jalan yang penuh dengan orang-orang berlalu lalang.
Cukup untuk membuat mata orang-orang disekitar memandang.
Membuat benak mereka sibuk berbincang karena penasaran.
Dan cukup untuk membuat hati mereka sedikit tergerak membantuku berdiri atau sekedar menanyakan apakah aku tidak apa-apa.
Sakitnya tak seberapa, tapi menyadari aku bisa saja membahayakan jiwa orang lain sungguh menyakiti jiwaku. Tapi menyadari bahwa aku tak mampu mengendalikan keseimbangan tubuhku lagi rasanya lebih menyedihkan.
Malunya pun tak seberapa, karena aku yakin semua orang pernah terjatuh, maka kemungkinan mereka menertawai jatuhku rasanya nyaris tak terpikirkan.
Aku menangis, bukan karena sakit ragaku.
Melainkan sakit yang lain.
Aku menangis atas kelemahanku, atas kecerobohanku, atas ketidakberdayaanku mengubah keadaan.
Aku segera berdiri dan pergi, karena aku tidak suka orang melihatku menangis.
Aku masih menangis, ketika sejenak berharap waktu itu kamu yang menolongku sehingga bisa kubenamkan wajahku di pelukmu supaya aku merasa tenang.
Label:
miscellaneous,
perfectness,
this life
5.1.09
fairy tale of broken dreams
Ini adalah sebuah kisah tentang seorang putri cantik yang menunggu datangnya cinta sejati.
Bukan seorang pangeran tampan diatas kuda putih dan menawan hati karena suara merdunya yang sedang ditunggu sang putri.
Melainkan seorang pahlawan yang mampu menyelamatkannya dari kesedihan dan kesendirian.
Apakah seseorang itu adalah pangeran kodok yang baru bisa berubah ketika ia menciumnya?
Ataukah hanyalah seorang pengembara dengan pakaian seadanya tanpa kereta kencana?
Sang putri tidak peduli, asal ia bisa menjaganya dengan baik dan membuatnya tersenyum bahagia itu sudah cukup.
Yang ia inginkan sebenarnya hanyalah cinta tanpa syarat dari seseorang yang dapat memberinya kebahagiaan yang sederhana.
Karena selama ini ia selalu bertemu dengan pangeran tampan berhati iblis yang pada akhirnya mencabik-cabik hatinya.
Dan pada suatu hari ia bertemu dengan seseorang dalam dunia yang hanya ada kata-kata.
Lelaki itu, entah bagaimana, berhasil merebut hati sang putri tanpa suara.
Bersamanya sang putri selalu dibuat tersenyum dan tertawa,
ia pun berhasil mengembalikan semangat hidupnya.
Dia begitu berbeda, begitu istimewa hingga sang putri merasa dialah belahan jiwanya.
Sampai suatu ketika ia tahu cintanya tidak mungkin berbalas,
Karena ternyata tambatan hatinya itu adalah seorang raja yang bijaksana.
Tentu saja raja itu sudah memiliki seorang ratu dalam kerajaannya.
Dan sebuah kehidupan yang sempurna.
Sang putri menangis, hatinya teriris sangat dalam, bahkan lebih sakit dari tercabik-cabik oleh pangeran berhati iblis.
Lama ia diam berbalut kesedihan yang begitu mendalam, sedalam cintanya terhadap seseorang yang istimewa itu.
Lama sekali..
Tapi sekarang, sang putri terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya, ia lebih banyak tersenyum.
Sama sekali tidak berbekas kesedihan itu pada raut wajahnya yang cantik.
Apakah dia terlalu pintar menutupinya atau karena dia telah menemukan cinta lain yang membuatnya jauh lebih bahagia?
Bukan, bukan karena itu semua dia lebih banyak tersenyum bahagia sekarang.
Ia bahagia karena...
Ada hal yang membuat cinta jauh lebih agung.
Ketika kita ikut bahagia atas tiap kebahagiaan orang yang kita cintai, meski kita bukan bagian dari kebahagiaan seseorang itu.
Bukan seorang pangeran tampan diatas kuda putih dan menawan hati karena suara merdunya yang sedang ditunggu sang putri.
Melainkan seorang pahlawan yang mampu menyelamatkannya dari kesedihan dan kesendirian.
Apakah seseorang itu adalah pangeran kodok yang baru bisa berubah ketika ia menciumnya?
Ataukah hanyalah seorang pengembara dengan pakaian seadanya tanpa kereta kencana?
Sang putri tidak peduli, asal ia bisa menjaganya dengan baik dan membuatnya tersenyum bahagia itu sudah cukup.
Yang ia inginkan sebenarnya hanyalah cinta tanpa syarat dari seseorang yang dapat memberinya kebahagiaan yang sederhana.
Karena selama ini ia selalu bertemu dengan pangeran tampan berhati iblis yang pada akhirnya mencabik-cabik hatinya.
Dan pada suatu hari ia bertemu dengan seseorang dalam dunia yang hanya ada kata-kata.
Lelaki itu, entah bagaimana, berhasil merebut hati sang putri tanpa suara.
Bersamanya sang putri selalu dibuat tersenyum dan tertawa,
ia pun berhasil mengembalikan semangat hidupnya.
Dia begitu berbeda, begitu istimewa hingga sang putri merasa dialah belahan jiwanya.
Sampai suatu ketika ia tahu cintanya tidak mungkin berbalas,
Karena ternyata tambatan hatinya itu adalah seorang raja yang bijaksana.
Tentu saja raja itu sudah memiliki seorang ratu dalam kerajaannya.
Dan sebuah kehidupan yang sempurna.
Sang putri menangis, hatinya teriris sangat dalam, bahkan lebih sakit dari tercabik-cabik oleh pangeran berhati iblis.
Lama ia diam berbalut kesedihan yang begitu mendalam, sedalam cintanya terhadap seseorang yang istimewa itu.
Lama sekali..
Tapi sekarang, sang putri terlihat jauh lebih bahagia dari sebelumnya, ia lebih banyak tersenyum.
Sama sekali tidak berbekas kesedihan itu pada raut wajahnya yang cantik.
Apakah dia terlalu pintar menutupinya atau karena dia telah menemukan cinta lain yang membuatnya jauh lebih bahagia?
Bukan, bukan karena itu semua dia lebih banyak tersenyum bahagia sekarang.
Ia bahagia karena...
Ada hal yang membuat cinta jauh lebih agung.
Ketika kita ikut bahagia atas tiap kebahagiaan orang yang kita cintai, meski kita bukan bagian dari kebahagiaan seseorang itu.
Label:
about love,
this life
30.12.08
think about him
everytime i think about love
i just need to close my eyes
and i think of him..
(ketika aku memikirkan tentang cinta
aku tinggal memejamkan mata
dan memikirkan dia..)
i just need to close my eyes
and i think of him..
(ketika aku memikirkan tentang cinta
aku tinggal memejamkan mata
dan memikirkan dia..)
Label:
about love,
poetry
27.12.08
hanya tulisan tak 'penting'
ada sebuah perkataan bahwa'seseorang yang peduli padamu tidak pernah lupa hari ulang tahunmu'
aku ingat hari ulang tahunmu
dan juga berharap bahwa
hari istimewamu ini akan membawa kenangan hangat dan membahagiakan
yang akan kamu ingat selalu
tapi aku tidak hanya ingat hari ulang tahunmu
aku juga ingat banyak hal yang pernah kamu katakan dan lakukan
ingat waktu yang telah kita habiskan bersama, penuh tawa dan kesenangan
aku ingat karena aku menganggapmu 'penting'
tapi kenapa kamu lupa
dengan hal kecil yang kamu janjikan padaku
apa tidak pernah sedikitpun aku 'penting' bagimu?
menyebalkan...
Label:
my dear B-)
Langgan:
Entri (Atom)


